Adakah saat dimana sang waktu tertidur? Ingin ku pergoki dan ku bunuh dia.

Biar semesta terbebas dari rotasi nya, biar angkasa membeku dan tak menua.

Biar bunga tak layu, dan pepohonan tak bertambah keriput wajah nya.

Biar yang kelelahan berhenti keringat nya.

Biar semua beristirat abadi dalam persembunyian ku, tak memudar, mati, dan hilang. di telan Waktu.

prima causa

Penggerak yang Tak-Digerakkan. Tidak ada sesuatu yang bergerak tanpa penggerak yang ada sebelumnya. Hal ini membawa kita pada suatu regresi, di mana satu-satunya jalan ke luarnya adalah Tuhan. Harus ada sesuatu yang pertama kali menggerakkan, dan sesuatu itu kita sebut Tuhan.

Tuhan sebagai titik akhir?

Sekalipun kita bisa memiliki kemewahan membayangkan sebuah titik akhir dari suatu regresi tak terbatas dan memberinya nama, hanya karena kita membutuhkannya, untuk melengkapi gap logika mengenai penggerak yang tak di gerakan?

after all, jelas tidak ada alasan untuk memberkahi titik akhir tersebut dengan sifat-sifat yang lazimnya dilekatkan pada Tuhan: kemahakuasaan?kemahatahuan? kebaikan, dan pencipta desain, untuk tidak menyebut sifat-sifat yang lebih manusiawi seperti mendengar doa, pemarah, memaafkan dosa, menyayangi sebagian dan membenci lainnya.

 

 

asthral

segalanya putih, aku mencoba membuka dan menutup mataku , tapi segalanya tetap putih. ah, aku bahkan tak tahu apa aku sedang membuka mata atau menutup mata? aku buta? tapi buta itu hitam, itu yang selalu ku dengar. entah dimana aku mendengar itu. mungkin aku sedang bermimpi? mungkin beginilah mimpi orang buta? atau aku sedang bermimpi berpura pura buta. dan kapan pun aku bisa terbangun dan menyadari semua baik baik saja. di bawah harapan itu aku tersenyum meskipun sesungguhnya aku getir dengan suara suara suram ketidak pastian. tapi ini putih, seputih susu. mungkin ini mimpi kosong. mimpi yang cepat atau lambat harus aku tinggalkan. ah, aku tahu ini adalah tahapan separuh mimpi dan separuh terjaga. dan kondisi ini benar benar tak nyaman, berada dalam kegelapan sepertinya lebih baik dari pada di papar cahaya putih seperti ini  terus menerus. haruskah aku bangun, haruskah aku tertidur dan mengabaian semuanya. tapi, bangun dari mana? bahkan aku tak tahu dimana aku berpijak, semuanya putih. bukan hanya itu, aku bahkan tak bisa merasakan tubuhku. aku tak bisa terbangun, aku lupa caranya terbangun. aku tersesat dan larut dalam lautan cahaya.

nocturn

di beranda rumah sederhana ini. aku berada dalam bingkai sore yang redup nan damai, Ku nyalakan rokok dan mulai tenggelam dalam pekat asap putih pahit. ku perhatikan recup dan terang bara di ujungnya. takjub menyaksikan peri peri nelangsa yang lahir di setiap kecupan, balerina putih yang cantik, berputar putar menjaga keseimbangan dan kemudian jatuh dan menghilang. detik berikut aku merindukan nya, dan detik berikut nya dia lahir kembali, mengepul dan terbang dalam kelembutan. tenggelam dalam rongga antara ada dan tiada benar benar menyakitkan. menyaksikan dunia yang telah aku pijak tak lagi pejal dan perlahan runtuh, langit terberai seperti asap, bintang jatuh laksana gerimis. dan aku tenggelam tanpa kelembaman, jatuh ke palung kenangan tak berdasar, bersembunyi dari armageddon.

aku tenggelam dalam lamunan panjang. terepresi kenyataan dalih ku untuk berinstropeksi. ku rasakan waktu berputar kebelakang. ketika matahari pertama tahun ini terbenam, aku melihat iring iringan orang orang datang kembali, berjalan mundur dalam gerak lambat. semua itu begitu menikam ulu hati, flight of memory menyakiti ku lagi, ku saksikan goresan luka mulai robek kembali, luka yang belum kering sempurna ini kembali mengeluarkan darah ber nanah. duri duri itu mulai berkecambah lagi dan bersarang di dalamnya,  tapi entah kenapa aku terus menikmatinya, tenggelam dalam delusi…. benar benar menikmati setiap goresan dan pedihnya… hfff. dari kejauhan, aku melihat dia di keluarkan lagi dari dalam bumi. udara kembali dingin. tanah merah membuka jalan tanpa di minta. dan…. aku menghisap rokoku lagi, hanya mencoba tersenyum menyambut iring iringan orang berpayung hitam membawa dia, bintang utama pemakaman, kembali pulang.

kau suntikan sweet vitriol dengan hati hati, kau jaga dosis dalam ambang awareness, seketika dunia mu mengecil. kau buka lipatan pisau kecil di meja. mungkin kau lihat dunia mu mulai berwarna, tak se-muram sebelumnya. kau rasakan tiap sayatan sepenuh nya. satu kali, dua kali, tiga sayatan di setiap lengan. kaubiarkan darah menetes terhisap udara. kau berusaha tetap terjaga, seperti ingin merasakan perih itu lebih lama. namun paru paru mu telah vakum, darah berhenti karena jantung tlah berhenti berdetak. kau menghilang, menyisakan senyuman pahit di wajah kebebasan.