nocturn

di beranda rumah sederhana ini. aku berada dalam bingkai sore yang redup nan damai, Ku nyalakan rokok dan mulai tenggelam dalam pekat asap putih pahit. ku perhatikan recup dan terang bara di ujungnya. takjub menyaksikan peri peri nelangsa yang lahir di setiap kecupan, balerina putih yang cantik, berputar putar menjaga keseimbangan dan kemudian jatuh dan menghilang. detik berikut aku merindukan nya, dan detik berikut nya dia lahir kembali, mengepul dan terbang dalam kelembutan. tenggelam dalam rongga antara ada dan tiada benar benar menyakitkan. menyaksikan dunia yang telah aku pijak tak lagi pejal dan perlahan runtuh, langit terberai seperti asap, bintang jatuh laksana gerimis. dan aku tenggelam tanpa kelembaman, jatuh ke palung kenangan tak berdasar, bersembunyi dari armageddon.

aku tenggelam dalam lamunan panjang. terepresi kenyataan dalih ku untuk berinstropeksi. ku rasakan waktu berputar kebelakang. ketika matahari pertama tahun ini terbenam, aku melihat iring iringan orang orang datang kembali, berjalan mundur dalam gerak lambat. semua itu begitu menikam ulu hati, flight of memory menyakiti ku lagi, ku saksikan goresan luka mulai robek kembali, luka yang belum kering sempurna ini kembali mengeluarkan darah ber nanah. duri duri itu mulai berkecambah lagi dan bersarang di dalamnya,  tapi entah kenapa aku terus menikmatinya, tenggelam dalam delusi…. benar benar menikmati setiap goresan dan pedihnya… hfff. dari kejauhan, aku melihat dia di keluarkan lagi dari dalam bumi. udara kembali dingin. tanah merah membuka jalan tanpa di minta. dan…. aku menghisap rokoku lagi, hanya mencoba tersenyum menyambut iring iringan orang berpayung hitam membawa dia, bintang utama pemakaman, kembali pulang.

kau suntikan sweet vitriol dengan hati hati, kau jaga dosis dalam ambang awareness, seketika dunia mu mengecil. kau buka lipatan pisau kecil di meja. mungkin kau lihat dunia mu mulai berwarna, tak se-muram sebelumnya. kau rasakan tiap sayatan sepenuh nya. satu kali, dua kali, tiga sayatan di setiap lengan. kaubiarkan darah menetes terhisap udara. kau berusaha tetap terjaga, seperti ingin merasakan perih itu lebih lama. namun paru paru mu telah vakum, darah berhenti karena jantung tlah berhenti berdetak. kau menghilang, menyisakan senyuman pahit di wajah kebebasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s